Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2016

November & Juli

Adhy M. Nuur

banyak kata ingin kuungkap
untuk memetakan pertemuan kita
kucoba menyederhanakannya
sebersahaja mega senja dengan satu warna
selebihnya adalah rasa yang bergelagak
atau mungkin sesosok pesona
namun selalu saja aku ingin memegahkannya

***
di november
hendak kugelambirkan saja rindu itu,
pada salju di reranting cemara
atau pada kelopak-kelopak air hujan di genangan sawah

dan, apalagi yang bisa kutawarkan
selain rencana dan kesempatan
toh aku memiliki apa yang belum kumiliki

apa aku terbuai ketakjuban?
apa aku terperosok fantasi tentang surga kecil
di bawah atap genting merah?
entahlah

aku pernah hidup seribu tahun dengan nafas-nafas mimpi
dan mungkin hanya punya seratus tahun
hidup untuk menyihir impian
bersamamu
melewati gurat waktu dan ambigu

***
di juli
ingin kujemur tawamu agar renyah
atau kubiarkan saja senyummu sedikit lembap
supaya tetap empuk

***
kalau pada waktunya tak kujumpai
hangat binar matamu di sepertiga sore, setiap hari
aku takkan menikam sesal
sebab aku tak mengarang ataupun menggubah
prosa perjumpaan kita

dari november hingga juli
aku berusaha menyangkal bahwa aku tak menginginkanmu
semoga saja bisa
sebab jika tak bisa
rindu itu,


bandung, 331290913

Amigdala

Adhy M. Nuur

untuk titik2.....

apa yang mesti kutawarkan padamu
hanya beberapa kiasan
aku ingin memagari tawamu dengan rindu
memerosokku

peperangan penantian kian berlipat gundah
tiada yang dapat kujanjikan
bahkan kepastian

pada malam dimana aku bermajas dengan sepotong lamunan
kau datang menggodaku dengan sebatang sesal
pertanyaan tak kunjung mendapati jawaban akhir
hanya asumsi dan opini
bukankah yang kau butuhkan adalah sebuah realitas?
bukan sepercik episode kecil dengan tabiat surga

sripohaci
kekagumanku
kau sesosok edelweis
musim gugurku adalah kepenatan
kemana lagi hasrat ini bersarang?

ini kurangkai kata kurangkai makna
kelak pada pertemuan kita
kuberikan hadiah kebimbangan sebagai kado yang kusiapkan
karena aku masih belum tahu
apa aku ingin memiliki cintamu atau memiliki dirimu

ah, terlalu megah untuk menerima kasihmu
sebab aku telah lebih dulu melesat dan pulas
dalam kilau matamu
sebelum gerimis panjang segera reda

apakah mesti berkonfigurasi dalam kata
rindu itu,

mari kesini
tundukkan kepalamu
seolah serpihan gelora tengah berserakan di bawah
tunggu hingga waktu berkarat sejenak
biarkan kudaratkan sebuah kecupan
di belahan rambutmu

subhanallah...!!!
tangga mana mesti kutitih
untuk menuju surga senyummu


bandung, 0710


mampir lagi dong ke sinih

Sabtu, 02 Juli 2016

Mantra

Adhy M. Nuur

sofia....
oh duhai kau yang duduk tersipu diantara bias bulan malam ke sebelas
hendaklah kau ingat siapa lelaki ini yang menunggu saat memahat hasrat
pertemuan
dalam perumpamaan jeda, kosong, tiada yang mengisi rongga amigdala
selain khusyuk menerjemahkan cinta cinta cinta dan Nya
hentakan-hentakan yang mendulang resah lagi, lagi-lagi resah
takluklah engkau pada keheningan

dun-ya...
oh duhai kau yang duduk diantara kursi kemilau, tahta raja-raja
memagut tawa dan tangis dengan satu jentikan jari
hendaklah kau tunduk pada waktu yang mengurungmu dalam bingung
ini diri menerimamu untuk bersendawa
bergurau dengan ketidakmungkinan yang kau sangkal sebagai kepastian
takluklah engkau pada kehampaan

arta...
oh duhai kau yang sering tertawa dalam tangis dan mengerucut kecut dalam peluh
menari-nari pongah serasa yang paling mampu menyandera indera
hendaklah kau sadar pada bagaimana mengecoh kenangan menjadi impian
ini rasa tak mudah tunduk pada permainanmu
walau untuk terbuai mesti mencampur airmata, di antara bilah dendam dan keikhlasan
takluklah engkau pada ketiadaan

arti...                                        
oh duhai kau yang acapkali mengaku pandai mewakili diri
bergolak dalam perdebatan siapa, darimana dan mesti kemana
hendaklah kau merunduk pada cahaya yang menyemburat dari segala penjuru
ini kalbu mungkin leluasa kau tipu
tapi untuk titik-titik hakiki, aku berkuasa atas kemudi
takluklah engkau pada kekosongan

fatamorgana...
tak peduli pada khalwat engkau bakal menancapkan mahabah
tak peduli ketika diam engkau terus berlari-lari
tak peduli sesal dan hasratmu saling menukarkan
takluklah pada suatu masa engkau akan melebur bersama ketiadaan


Bandung, tengah maret empatbelas

mampir juga ke sajak yang ini

Jumat, 01 Juli 2016

Balada Rindu itu, Lagi

Adhy M. Nuur

tahukah kau, hati ini langit senja merah mega
mencoba tak berprasangka siapa telah melabur luka kecewa
bersama sendawa
yang kutahu hujan tak selalu diawali oleh pekat mendung

pikirkan lagi, siapa aku yang acapkali bersemangat
menemukan kelakarmu sebagai sarapan pagi
lengkap dengan teh tawar hangat
padahal sering terasa, manis peluh berasal dari
tatanan airmata

beri tahu aku, apa yang paling nikmat membuat rehat
fantasi ini
andainya sentuhan tanganmu kala membelai kepala ini
bukan aroma pada bunga
tentulah selalu kucari di taman mana dia berada

tahukah kau apa itu rindu,
itu serupa dalih mengapa kuas sering ingin menyapukan
warna terang di atas hitam
itu semacam deru keinginan yang acapkali mempertanyakan
bagaimana jasad ini tanpa ruh cinta

ini aku persepsikan, rindu itu,
sebagaimana degup jantung dan sirkulasi nafas
yang menjadikan musabab diri masih menjalani hari

dan, aku akui lagi,
seringnya, aku kerap gagal menterjemahkan rindu
yang aku tahu
aku menginginkanmu seperti aku kerap gagal mempertanyakan
mengapa di hati ini mesti ada rasa ingin memilikimu


Bandung, 170725314

Ritus I

Adhy M. Nuur


bulan pecah di tenggorokan
paruh malam tercekik di tengkuk
asma gelora membabibuta
duhai kasmaran yang goyah diterpa angin subuh
kukandangi dengan bimbang

sukma-sukma
merapat dalam sintal tubuh dendam
memeluk sepi
purba dan kerap mematikan
mari bercerita tentang fantasi surga

darah-darah
gemulung menghantar keluh ke ketiak
tempat dimana benci beraroma
rasa sungkan
sari-sari keheningan
agar sabda banyak makna

siapa aku siapa kamu
kita dan mereka
cintalah cinta mainkan rasa
padu ragu lagu sendu
bangkai dan susu madu
tubuh rusuh simbah peluh
piuh,


getar-getar
bangkitkan aku dalam suasana dungu
tak ada frasa atau alinea
mampu menggelambir kecewa
selain hegemoni permisif


kaf untuk kun
arus iman, deraslah deras
bernyanyilah di atas diri yang sepi
sesuatulah, tunjukkan nikmat khalwat
ini cinta
ini cinta
ini cinta
hasrat pecundang
mengangkat tangan
dan mengantarkan kening mencumbu tanah


ha mim ‘ain sin qof
sihir aku, selalu

dalam rindu itu,



Bandung, 13027314

Merayu Endorphin

Adhy M. Nuur

itu
jiwa yang bersungut-sungut
belum pula menemukan arah jalan pulang
istirahat di kesunyian
sekedar meredam bising di otak
sesak dengan ambisi
siapa menyemai dendam pada siapa?

oh itu
yang bersarang di dada kiri
acapkali menghadiahkan sensasi
bimbang
hendak menunjukkan apa?
pada siapa?
bangunlah
bangun
bersiap menghadap pada semburat ragu
niscaya kau sadari siapa yang sembunyi
di bilik belakang telinga
amigdala
kerap berpacu menunggang takut

tentang mimpi beberapa waktu silam
tidur telah menyempurnakannya

kuhadiahkan fragmen cerita
romansa masa depan
yang sama sekali berwujud teka-teki
sisanya adalah labirin
keluar, terus masuk lagi
dan seterusnya
itu kata mata
apa engkau akan memandang sama?

kutikam kembali
rindu itu,

kubasuh lagi
remah-remah resah

kusuguhkan janji kemarin
elegi saat ini
yang sekalipun gaduh
kau akan merasa senyap
sisanya adalah pencarian
mengingat, melupakan dan mengingat lagi
begitu selanjutnya
itu kata telinga
sebab suara lebih statis dari visual
apa engkau akan mendengar bisikannya?
kontradiktif bukan?
begitulah eksistensi ego
seringkali akrab dengan negasi

oh itu
dari sekian percakapan
tak sekalipun aku mampu mengidentifikasi
kau dari jenis stigma yang mana?

“kau hanya perlu merasa tidak merasa,” begitu kata endorphin

tapi
cuma dzikir-dzikir si mata jeli
yang mampu membungkamku
hingga aku hanya senyum saja
mulai meradam tanya untuk apa dan mengapa

ah
rindu itu,


jakarta, 260415

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates